Showing 10–18 of 80 results
-

-

EPISTEMOLOGI SUNNATULLAH: Kajian Tafsir Tematik Multidisipliner
Rp 100.000Buku ini mengajak pembaca memahami sunnatullah dengan sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh. Selama ini, sunnatullah sering dipahami sebatas hukum sebab-akibat yang berlaku tetap dalam kehidupan, padahal Al-Qur’an juga menyingkap adanya sunnatullah khariqah berupa mukjizat, karamah, ma’unah, ihânah, dan istidrâj. Dengan pendekatan relasional yang melibatkan pancaindra, akal, intuisi, dan wahyu, buku ini menegaskan bahwa sunnatullah hadir dalam dua corak: kepastian dan kemungkinan, yang sama-sama menyimpan hikmah.
Isi buku tidak berhenti pada teori, tetapi menyajikan langkah-langkah praktis untuk memahami petunjuk Al-Qur’an secara tematis. Setiap surat, juz, atau tema tertentu dapat dipetakan, dikelompokkan, lalu ditafsirkan dengan dukungan berbagai disiplin ilmu. Proses ini membantu pembaca menemukan benang merah antara ayat-ayat Al-Qur’an dengan realitas kehidupan dan perkembangan pengetahuan modern, sehingga pesan-pesan ilahi terasa lebih dekat dan aplikatif.
Buku ini menjadi jembatan antara warisan tafsir klasik dengan kebutuhan pemikiran kontemporer. Ia menawarkan pandangan baru tentang bagaimana sunnatullah bekerja dalam kehidupan manusia dan alam semesta, serta menghadirkan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi yang relevan sepanjang zaman. Untuk bahasan selanjutnya, milikilah buku ini. Semoga bermanfaat, dan selamat membaca!
-

EPISTEMOLOGI TAUJĪH AL-QIRĀ’ĀT
Rp 100.000Buku Epistemologi Taujih al-Qirā’āt mengungkap sisi lain dari tafsir Marāḥ Labīd karya Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar Nusantara abad XIX. Tafsir ini tidak hanya menampilkan qirā’āt sab‘ah dan ‘asyrah yang sudah populer, tetapi juga menghidupkan kembali qirā’āt tsamāniyyah yang hampir terlupakan dalam arus besar sejarah qirā’āt.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, Syekh Nawawi memadukan analisis linguistik, semantik, performansi, historis, dan ortografi. Kerangka ini menjadikan taujīh al-qirā’āt dalam Marāḥ Labīd lebih komprehensif dibanding karya-karya sebelumnya, sekaligus memperlihatkan keluasan pengetahuan serta kepekaan intelektualnya terhadap keragaman bacaan Al-Qur’an.
Buku ini tidak hanya menegaskan kontribusi Syekh Nawawi dalam menjaga khazanah qirā’āt, tetapi juga menunjukkan bagaimana tradisi ilmu Qur’ani tetap hidup di tangan ulama Nusantara. Marāḥ Labīd hadir sebagai jembatan antara tradisi klasik dan kebutuhan intelektual modern, menjadikannya pilar penting dalam pelestarian dan pengembangan ilmu qirā’āt.
-

ESENSI ISLAH AL-AFRAD SEBAGAI PILAR KESEJAHTERAAN SOSIAL
Rp 80.000Buku ini mengangkat sebuah gagasan mendasar namun sering terabaikan: membangun masyarakat dimulai dari pembinaan individu. Terinspirasi dari pemikiran brilian Ibnu ‘Āsyūr—ulama dan pemikir abad ke-20—konsep Iṣlāḥ al-Afrād (reformasi dan pembinaan pribadi) dipaparkan sebagai fondasi kokoh bagi terciptanya tatanan sosial yang adil, harmonis, dan berkelanjutan.
Ibnu ‘Āsyūr menegaskan, kekuatan masyarakat tidak lahir dari kebijakan struktural semata, tetapi dari pribadi-pribadi yang bertanggung jawab, dan berpegang pada nilai etika serta spiritual. Melalui perpaduan kajian Al-Qur’an dan pembacaan kritis terhadap realitas sosial, buku ini menawarkan analisis yang tajam sekaligus aplikatif.
Lebih dari sekadar teori, karya ini mengajak pembaca menjadi agen perubahan—dimulai dari diri sendiri—untuk membangun keluarga, komunitas, dan bangsa yang lebih berkeadilan dan sejahtera.
-

ESENSI PEMBELAJARAN TAHSIN AL-QUR’AN
Rp 75.000Buku ini menguraikan secara sistematis pembelajaran makhārij al-ḥurūf dan ṣifāt al-ḥurūf sebagai dasar utama dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an. Di dalamnya, berisi penjelasan yang disusun berdasarkan proses dalam menerapkan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Dimana, di dalamnya terdapat tiga tahapan utama pembelajaran.
Pertama, tahap perencanaan. Tahap ini menyajikan beberapa langkah, seperti pelaksanaan pretest, pengelompokan peserta, penyediaan media, serta penyusunan rubrik penilaian. Kedua, tahap pelaksanaan. Tahap ini ditandai dengan pembacaan sajak tajwid dan penggunaan strategi S.U.B.U.H (Salam, Ulang, Beri, Uji, Hamdalah). Ketiga, tahap evaluasi. Di tahap ini, dilakukan untuk melihat perkembangan dan memastikan ketercapaian tujuan.
Selain itu, buku ini menjelaskan strategi pembelajaran melalui ceramah, praktik, dan demonstrasi. Serta strategi melalui tanya jawab dan latihan. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kesadaran peserta mengenai kefasihan pengucapan huruf, pentingnya mempelajari makhārij dan ṣifāt, serta kemampuan menerapkannya dalam bacaan Al-Qur’an secara benar dan konsisten. Dengan penyajian yang jelas dan aplikatif, buku ini menjadi panduan berharga bagi para pengajar, praktisi tahsin, dan pembelajar Al-Qur’an yang ingin meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan metode yang efektif dan terarah.
-

FENOMENA GRANDPARENTING DALAM RANAH BIRRUL WALIDAIN
Suatu fenomena alih asuh anak kepada kakek-neneknya atau grandparenting, sudah tidak asing di masyarakat. Orang tua yang sibuk bekerja memutuskan untuk mengalihkan pengasuhan anaknya kepada grandparent. Di mana mereka adalah seorang lansia yang mengalami beberapa penurunan meliputi kondisi fisik dan non fisik yang terjadi secara alamiah. Grandparent tidak selincah bagaimana orang tua mengasuh anaknya, terlebih jika yang diasuh adalah anak-anak balita yang sedang mengalami masa aktif. Hal demikian tentu membebani grandparent dan berseberangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan Umatnya untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain).
Buku ini akan mengupas fenomena grandparenting dalam pandangan Al-Qur’an. Pun juga akan dibahasa parameter dan hukum grandparenting. Apakah Islam membolehkan? Sejauh mana batasan kebolehannya? Demi terwujudnya masyarakat yang baik dan berakhlak mulia. Semangat dalam melaksanakan tanggung jawab dan memaksimalkan pengabdian. Semoga bermanfaat, selamat membaca!
-
Sale!

GIFTED CHILDREN PERSPEKTIF AL-QUR`AN
Rp 70.000Gifted children atau anak berkebutuhan istimewa memiliki karakter intelektual dan emosional yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Dalam pengasuhannya membutuhkan penanganan khusus agar potensi dan keberbakatannya bisa dikembangkan secara optimal. Buku ini menjelaskan gifted children dan pola asuh pendidikannya perspektif Al-Qur`an yang dikuatkan dengan penjelasan tafsir Ibnu Kaşīr dan tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dengan menggunakan pendekatan psikologi dan sosiologi.
Buku ini menjelaskan bahwa pola pengasuhan gifted children sesuai dengan perspektif Al-Qur`an adalah dengan besikap lemah lembut, selalu memaafkan, mendoakan dan musyawarah serta tawakkal. Cara-cara mengasuh anak gifted yang terdapat dalam Q.S Ali Imran ayat 159 ini sesuai dengan pola pengasuhan demokratis dalam teori psikologi.
Semoga bermanfaat dan selamat membaca!
-

ILMU NAGHAM AL-QUR’AN
Di Indonesia nagham menjadi salah satu cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) paling diminati dibandingkan dengan cabang-cabang lainnya. Hal ini dilihat dari jumlah peserta yang senantiasa meningkat dari tahun ke tahun, mulai dari tingkat anak-anak hingga dewasa.
Buku ini hadir membahas tentang seni dalam membaca Al-Qur’an (nagham) dengan irama yang indah dan benar. Pembaca akan diajak untuk mengenal nama-nama nada beserta tausyikhnya. Nada-nada tersebut dikenal dengan ‘maqamat’. Terdapat beberapa maqamat yang akan dibahas di buku ini, seperti: Bayyati, Hijaz, Rast, Shika, dll.
Dalam buku ini tidak hanya membubuhkan penguasaan teori maqamat melainkan, juga menampilkan ayat di setiap maqamnya. Jadi, cocok sekali apabila buku ini sampai kepada khalayak yang memiliki minat terhadap seni Al-Qur’an melalui tilawah (nagham). Simaklah penjelasan detailnya dalam buku ini dan selamat membaca!
-

Ilmu Qirâ’ât dalam Pandangan Orientalis
Usaha para sarjana Barat ingin menjatuhkan Al-Qur’an semakin jelas terlihat ketika syi’ar Islam semakin meluas ke penjuru dunia. Hal tersebut menjadi awal mula kajian orientalis terhadap Al-Qur’an dengan bertujuan mencari kelemahan dan menjatuhkan Al-Qur’an. Dalam buku ini penulis membahas tentang teori Ignaz Goldziher yang memiliki penafsiran sendiri terhadap unifikasi ragam Qira’at. Unifikasi dalam pandangannya adalah cara Al-Qur’an yang seharusnya dibaca dengan satu Qira’at saja.
Sedangkan, unifikasi Qira’at yang dilakukan pada masa kodifikasi Al-Qur’an di masa ‘Utsman bin ‘Affan dengan memilah Qira’at yang mutawattir dan mengelompokkannya. Sehingga beberapa Qira’at tersebut dapat diakomodir ke dalam satu mushaf ‘Utsmani yang dikirimkan ke salah satu wilayah beserta sahabat dengan Qira’at yang sama. Jadi, konsep Unifikasi Qira’at yang diusung oleh Ignaz berbeda dengan yang telah diterapkan oleh para ahli Qira’at. Semoga buku ini bermanfaat, selamat membaca!
POTRET KINESIK NEGATIF DALAM AYAT-AYAT AL-QUR’AN